Dari foto-foto para pembuat konten yang mengenakan gaun linen putih bersih di depan dekorasi bunga Centre Court hingga video tips mengantre tiket, antusiasme seputar Wimbledon kini mencapai puncaknya di Instagram dan TikTok. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, fenomena media sosial ini memicu kekhawatiran bahwa Wimbledon kian bergeser menjadi acara pariwisata alih-alih turnamen tenis murni. Kompetisi legendaris ini dinilai mulai dipadati oleh pengunjung yang lebih tertarik berdandan dan berswafoto daripada menyaksikan jalannya pertandingan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Pihak manajemen Wimbledon sendiri tampaknya sengaja merangkul para influencer dalam beberapa tahun terakhir demi mengikis reputasi eksklusif dan menarik minat generasi muda. Menurut Direktur Pemasaran Wimbledon, Usama Al-Qassab, strategi ini terbukti berhasil menurunkan usia rata-rata pengunjung sekitar satu tahun setiap tahunnya selama satu dekade terakhir. Dari pantauan redaksi, usia rata-rata penonton yang mendapatkan tiket kini berada di pertengahan 40 tahun, sementara mereka yang rela mengantre langsung rata-rata berusia 35 tahun.
Meskipun beberapa turnamen olahraga klasik seperti Masters di Amerika Serikat melarang keras penggunaan kamera atau telepon seluler, Wimbledon justru membebaskan pengunjung menggunakan ponsel mereka karena menganggap ajang ini sudah menjadi agenda wajib atau "bucket list". Menurut Usama Al-Qassab, permintaan tiket melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Minggu pertama turnamen tahun ini bahkan mencatat kunjungan hampir 300.000 orang, melampaui rekor yang baru saja dipecahkan pada tahun 2025 lalu.
Pertumbuhan Wimbledon ini juga sejalan dengan meledaknya popularitas tenis secara global, yang semakin didongkrak oleh budaya pop seperti film Challengers (2024) serta tren fesyen "Tenniscore" di TikTok. Berdasarkan penelitian dari Leah Gillooly, mantan wasit Wimbledon sekaligus pakar pemasaran olahraga di Manchester Metropolitan University, antrean penonton kini menjadi jauh lebih muda, lebih internasional, dan lebih padat. "Hal tersebut kemungkinan besar didorong oleh media sosial. Orang-orang membicarakan betapa luar biasanya pengalaman di sini, hampir mirip seperti menghadiri sebuah festival," ungkap Leah Gillooly.
Joanna Hughston, selaku pemimpin pemasaran di Goat Agency, menambahkan bahwa banyak merek memanfaatkan Wimbledon untuk memperluas jangkauan mereka melalui pembuat konten digital. Menurut Joanna Hughston, "Baik atau buruk, Wimbledon telah menjadi lebih dari sekadar objek wisata yang digerakkan oleh media sosial, selebriti, mode, makanan, dan budaya di sekitarnya." Salah satu contohnya adalah Sebastian Melrose, seorang pembalap profesional dan influencer yang mengaku baru pertama kali menghadiri pertandingan tenis langsung demi mencocokkan profil kontennya yang estetik.
Kondisi ini ternyata turut dirasakan langsung oleh para atlet di tepi lapangan. Mantan juara ganda tenis, Mike Bryan, turut memberikan pandangannya mengenai situasi terkini di stadion. "Dari sudut pandang penggemar, semua orang sibuk mengambil foto. Apakah mereka benar-benar menonton pertandingan, atau mereka hanya mencoba membuat saluran media sosial mereka terlihat lebih menarik?" tutur Mike Bryan. Saudara kembar sekaligus rekannya, Bob Bryan, menambahkan bahwa atmosfer pertandingan kini terasa sedikit berbeda dan kurang bergelora karena penonton lebih sibuk mengabadikan momen daripada menikmati momen itu sendiri.