Dalam misinya untuk meraih gelar Grand Slam ke-25 yang akan memperpanjang rekor dunianya, Novak Djokovic hanya peduli pada hasil akhir. Bagaimana kesempurnaan performanya di lapangan menjadi hal yang kurang krusial. Berdasarkan laporan dari theguardian.com pada hari Minggu, Djokovic dipaksa bekerja ekstra keras oleh petenis Rusia, Roman Safiullin, dan sempat menunjukkan rasa frustrasinya di Centre Court karena permainannya tidak mengalir seperti biasa.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Namun, untuk rekor ke-106 kalinya di turnamen ini, petenis asal Serbia tersebut berhasil keluar sebagai pemenang. Keberhasilan ini mengantarkannya mencapai perempat final Wimbledon untuk kesembilan kalinya secara beruntun, sekaligus yang ke-17 sepanjang kariernya. Dari pantauan redaksi, petenis berusia 39 tahun itu kini telah menembus babak perempat final turnamen mayor sebanyak 66 kali.
Kemenangan Djokovic dengan skor 7-6 (6), 6-3, 3-6, 6-3 atas Safiullin membutuhkan perjuangan keras selama hampir tiga setengah jam di bawah cuaca sore yang hangat. Djokovic sempat dibuat goyah oleh performa impresif sang lawan, yang bermain jauh melampaui peringkatnya saat ini di posisi 132 dunia. Safiullin bahkan sempat mendapatkan dua set point pada kedudukan 5-2 di set pertama sebelum akhirnya kalah di babak tie-break, dan tampil cukup apik untuk merebut set ketiga.
"Satu lagi kemenangan yang diraih lewat perjuangan keras," ujar Djokovic dengan nada lega setelah pertandingan. Menurut Djokovic, Safiullin memulai laga dengan sangat agresif sehingga membuatnya kurang nyaman di garis belakang. "Saya tahu akan menjadi tantangan besar untuk meladeni reli dengannya, terutama dari sisi lapangan tempat kami harus bermain melawan angin di sepanjang pertandingan," tambahnya.
"Sejujurnya, saya jarang merasa inferior dari garis belakang saat menghadapi banyak pemain sepanjang karier saya. Hari ini adalah salah satu hari di mana saya tidak ingin bertahan dalam reli terlalu lama, jadi saya harus memvariasikan permainan. Strategi ini berhasil di beberapa momen dan gagal di momen lain. Pada akhirnya, saya berhasil menemukan akurasi pada servis pertama saya yang menyelamatkan saya dari situasi sulit di set keempat," tutur Djokovic.
Ketika diminta merangkum perjuangannya di minggu pertama, Djokovic memberikan komentar yang cukup jujur. "Bertahan hidup untuk berkembang, itulah yang saya rasakan. Semoga fase berkembang itu segera datang," katanya. Saat diingatkan bahwa ia terkenal dengan fokusnya yang tajam, ia menambahkan, "Dan juga ledakan emosi serta rasa frustrasi saya. Saya mengalami beberapa momen itu hari ini, saya meminta maaf."
Dari pengamatan tim redaksi, salah satu momen frustrasi tersebut terjadi di awal set ketiga saat Djokovic memegang servis pada kedudukan 2-3. Setelah menyelamatkan beberapa break point, ia harus menghadapi break point ketiga. Ketika pukulan forehand kencang Safiullin menembus pertahanannya untuk mengubah skor menjadi 4-2, Djokovic berbalik dan memukul bola dengan keras ke arah pagar belakang. Beruntung bagi Djokovic, bola tersebut tidak mengenai siapa pun.
Frustrasi sudah membayangi Djokovic sejak awal laga akibat kekuatan pukulan petenis Rusia tersebut yang terus menekannya di belakang garis baseline. Meskipun sempat melakukan break di gim pembuka, Djokovic tampak terganggu oleh keringat yang mengalir ke matanya, selain faktor angin dan matahari. Safiullin memanfaatkan celah ini untuk memimpin 5-2 dan mendapatkan dua set point, meski akhirnya Djokovic mampu mengejar dan merebut set pertama lewat tie-break 8-6 dalam waktu 62 menit.
Set kedua berlangsung relatif lebih mudah bagi Djokovic dan tanda-tanda kemenangan tiga set langsung sempat terlihat. Bahkan putranya, Stefan, tampak santai bermain permainan kartu Exploding Kittens di boks pemain. Namun, level permainan Djokovic mendadak menurun di awal set ketiga yang langsung dimanfaatkan Safiullin untuk merebut set tersebut dan memperkecil ketertinggalan.
Momen itulah yang memaksa Djokovic untuk langsung meningkatkan intensitas permainannya. Menyadari bahwa ia harus maju ke depan demi menyelesaikan poin lebih cepat, ia memenangi empat dari lima poin servis-dan-voli, serta sembilan dari 13 poin di net. Perubahan strategi menyerang ini membawanya unggul cepat 3-0 di set keempat hingga akhirnya menyegel kemenangan untuk menghadapi Félix Auger-Aliassime dari Kanada di babak perempat final.